Ketika
konflik di Ambon berubah menjadi konflik horizontal dan memicu perang
saudara, satu Peleton (35 orang) Bravo di terjunkan. Tim Bravo yang
tergabung dalam Batalyon Gabungan I (Yon Gab I) dikirim bersama pasukan
elit lainnya, Marinir dan Kopassus.
Sebelum berangkat, Yon Gab I melakukan persiapan dengan latihan bersama
di Bhumi Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Satu bulan berlatih, Yon
Gab I yang dalam operasi tempurnya memakai pakaian loreng TNI AD segera
di berangkatkan ke Ambon.
Begitu Mendarat, Yon Gab I langsung dihadapkan pada situasi pertempuran
yang sesungguhnya. Pihak-pihak yang bertikai, Kelompok Merah dan
Kelompok Putih, memiliki senjata yang mematikan. Apalagi setelah gudang
senjata Brimob di Galala berhasil di bobol dua pihak yang bertikai.
Senjata organik TNI mulai dari senapan serbu, pistol organik, dan
peluncur granat, setiap hari digunakan dalam pertempuran. Tugas Yon Gab 1
menjadi demikian berat karena harus mampu menyekat dua pihak yang
bertikai sekaligus menghadapi tanggapan non kooperatif dari masyarakat
setempat.
Dalam berbagai petempuran yang terjadi di kawasan Kairatu, Gemba,
Masohi, Ambon dan lainnya, Yon Gab I selalu berhasil mengendalikan
situasi meskipun harus kehilangan seorang personil dari kopassus. Tim
Bravo yang tergabung di Peleton 3 meskipun tidak mengalami korban jiwa,
tetapi mengalami musibah. Komandan Peletonnya, Lettu Psk Marsono terkena
ledakan granat dan harus ditarik dari medan tempur. Akibatnya cukup
serius. Tim Bravo untuk sementara tidak mempunyai komandan.
Markas Bravo segera bertindak dan secepatnya mengirim komandan baru,
Letda Psk Dodi Irawan. Pengiriman Letda Dodi termasuk unik dan nekat.
Perwira yang pernah berlatih dengan Kopassus itu diterjunkan seorang
diri. Tiba di Bandara Pattimura, Ambon, Letda Dodi berusaha keras
bergabung dengan pasukannya. Perlu perjuangan dan harus menembus
berbagai pertempuran sengit sebelum sang Letnan bisa bergabung.
Akhirnya setelah berhasil bergabung dengan Kompi A, Letda Dodi
bergabung dengan Tim Bravo dan segera memimpin operasi. Salah sau tugas
pertempuran yang di laksanakan Bravo adalah perang countersniper. Maklum
dalam situasi porak-poranda, sejumlah sniper liar kerap mengancam
pasukan Yon Gab I.
Setelah 10 bulan bertugas dan kehadiran Yon Gab I diterima masyarakat,
keadaan kota Ambon berangsur membaik. Kedamaian itu tidak berlangsung
lama. Situasi genting pecah lagi oleh penembakan-penembakan terarah di
kawasan Mardika dan di tujukan kepada Marinir dan Yon Gab I. Para
Komandan Yon Gab I heran, karena penembakan gencar selalu diarahkan ke
posisi mereka dan berasal dari berbagai arah. Pada malam hari tembakan
yang di tujukan kepada Yon Gab I dan Marinir yang hanya bertahan, justru
makin gencar dan berasal dari gedung-gedung.
Pangdam XVI Pattimura Brigjen TNI I Made Yasa tak mau tinggal diam.
Panglima akhirnya mengizinkan Yon Gab I melakukan tindakan bela diri.
Lewat operasi intelijen akhirnya bisa diketahui bahwa tembakan gencar
itu berasal dari pasukan liar yang terkoordinir oleh komando gelap.
Operasi tempur yang menargetkan pusat komando gelap pun di gelar.
Sasaran jelas Hotel Wijaya II.
Dalam formasi penyergapan, Tim Bravo mendapat tugas menyerbu langsung
ke dalam hotel. Mereka bertanggung jawab melumpuhkan satuan komando liar
yang di yakini pengoordinir serangan gelap. Rupanya formasi Yon Gab I
sudah di ketahui para penyerang. Akibatnya hujan tembakan menerjang
mereka. Berkat latihan keras dan kemampuan tempur tinggi, secara pelahan
Tim Bravo berhasil mendekati lokasi hotel dan melakukan pengepungan.
Mendapat perlawanan dari dalam hotel, kontak senjata berakibat
melumpuhkan para perusuh yang ternyata memang benar bermarkas di hotel.
Hasilnya cukup mengejutkan. Markas komando liar itu di kontrol perwira
TNI dan Polri lengkap dengan perangkat pos komando, amunisi dan
sejumlah senjata laras panjang standar.
Setelah berhasil meringkus dalang perusuh yang bermarkas di Hotel
wijaya II, situasi Ambon langsung reda. Sebulan kemudian Yon Gab I di
tarik dari Ambon dan mendapat penghargaan tinggi dari Pangdam XVI
Pattimura.
Sumber: Garuda militer



Tidak ada komentar:
Posting Komentar